Memilih pilihan yang terbaik dan tepat, memerlukan pengetahuan yang benar, informasi yang luas dan keberanian melawan keinginan-keinginan yang tidak benar. Kadang-kadang ada beberapa aktifitas yang sepertinya sama-sama penting dan berharga, perhatikanlah, dampak secara fisik, spiritual dan kemudahannya, jika memang masih sama manfaatnya tapi membawa pengaruh buruk lain – yang tidak disadari- berarti pilihan yang sepertinya, yang sama itu , tidak lagi patut dipilih. Pilihlah yang bermanfaat, sederhana, tidak menimbulkan masalah di depannya, seperti akan memakan biaya, waktu, materi dan belum jelas hasilnya!


muhasabah 2

23Nov09

Lakukanlah yang terbaik dalam setiap detik hidup-Mu dan jangan biarkan ngelantur dengan membandingkan dengan yang lain!

pekerjaan yang besar membutuhkan stamina yang besar pula!

pekerjaan yang berat tidak selalu menguras fisik, kadang-kadang juga menguras otak, emosi, perasaan, dan lamunan!

lakukanlah di awal dengan kebahagiaan total!
di tengah dengan kebahagiaan total!
dan di akhir dengan kebahagian total!

menantilah dengan bahagia, sabarlah dengan bahagia, nikmatilah pekerjaanmu dengan bahagia,
laparlah dengan bahagia, hauslah dengan bahagia, kayalah dengan bahagia, miskinlah dengan bahagia!
maka engkau akan selalu mereguk kebahagiana tanpa jeda!

mencuci jendela rumah,
memotong rumput, membersihkan wc,
menjahit baju yang bolong,
mereparasi stop-kontak listrik,
menjaga bayi yang tidur,
adalah pekerjaan rutin yang memengaruhi aktifitas besar seseorang,
jadi cintailah yang rutin itu jika demikian adanya!

Cepat tidak selalu berat dan lambat juga tidak selalu terlambat jika dilakukan dengan tepat dan proporsi yang tepat!

Berikan kebaikan kepada teman – tanpa mereka merasa malu -dan tanpa merasa digurui,

Siapa yang membiarkan diri larut dalam situasi yang tidak baik yang akan merusak emosi dan pikiran, maka siap-siaplah didera oleh situasi tersebut! dan siap-siaplah kehilangan momen yang baik! jadi janganlah main-main dengan kesenangan yang akan merusak emosi dan pikiran anda!

bersenang-senanglah dengan kesenangan yang akan meningkatkan kualitas kehidupan anda!
kesenangan yang berakhir dengan penyesalan bukanlah kesenangan yang hakiki!


muhasabah

23Nov09

lakukanlah yang paling penting, dan juga yang tidak penting jika menjadi bagian yang penting dan terpenting!

jika persoalan yang kecil tapi memengaruhi hidupmu selama waktu yang sangat lama, maka itu bukan lagi persoalan kecil!

jadikan segala sesuatu sebagian bagian dari cara untuk menghampiri tuhan-Mu, jika tidak, maka engkau akan abadi dengan sesuatu yang remeh!

keinginan untuk menjadi terkenal, memperoleh kekayaan, ketenaran, karir, gelar, posisi, popularitas jika dijadikan wasilah untuk berbuat baik kepada sebanyak orang dan mendekatkan diri kepada Allah, maka itu adalah cita-cita yang mulia!

Ya Allah,
selamatkanlah anak-anakku!
Bahagiakan aku dengan mereka!
Jadikan aku dan anak-anakku selalu yakin kepada-Mu!
Senantiasa merindukan pahala-Mu!
merasa gentar dengan ancaman siksa-Mu!
Senantiasa memalarkan apa yang ada di sisi-Mu!
Dan putus asa dengan apa yang ada di selain-Mu

(doa seorang waliyullah)

Lakukan segala sesuatu dengan konsentrasi maksimal, penuh kebahagiaan, dan keceriaan sekalipun engkau tidak tahu hasilnya,
selalulah meminta kepada Allah, sebagaimana yang diajarkan oleh cucu rasulullah (imam yang suci) lewat doa di bawah ini ;

akulah yang meminta agar bisa fana di dalam diri-Mu
akulah si miskin yang berharap di pintu-Mu!
akulah yang lemah di pintu-Mu
akulah yang fakir dipintu-Mu
akulah yang berharap agar bisa fana dalam diri-Mu
akulah yang mengharapkan-Mu
Akulah yang mengharapkan rahmat-Mu
Ampunan-Mu
Dan memohon magfirah-Mu


Orang bijak mengorbankan kesenangan sedikit untuk kebahagiaan yang banyak.

Si pemberani bukan berarti tidak takut akan bahaya tapi ia menjadikan bahaya sebagai latihan untuk menjadi lebih berani.


footnotenya

04Nov09

Lihat http://www.kompas.com, 28-juni 2008.
Akar kekerasan. Analisis Sosio-psikologis atas watak manusia, Erich Fromm, pustaka pelajar 2001.
Manusia dan Kebenaran. Sebuah Filsafat Pengetahuan.Penulis: Adelbert Snijders
Penerbit: Kanisius, YogyakartaCetakan: I, 2006; II, 2007

The study of human nature A reader. Edited by Leslie Stevenson
Para filsuf juga memiliki kajian tetang filsafat manusia – atau antropologi manusia – yaitu bagian integral dari filsafat, yang secara spesifik menyoroti hakikat manusia atau esensi manusia. Filsafat manusia tidak membatasi diri pada gejala empiris. Aspek-aspek dimensi-dimensi, atau nilai-nilai yang bersifat metafisis, spiritual, dan universal dari manusia, yang tidak dapat diobsevasai dan diukur melalui metode-metode keilmuan, dapat menjadi bahan kajian terpenting bagi filsafat manusia (lihat lebih jauh Zainal Abidin, Filsafat manusia dan Aldelbert Snijders dalam Antropologi Filsafat Manusia paradoks dan seruan)
Adelberts Snijders, Antropologi filsafat Manusia paradoks dan seruan, Kanisius 2004), hal 97
Encyclopedia of philosophy, psychology
Frederic Copleston a History of Philosophy volume 5; Hobbes to Hume hal 5
Encyclopedia of philosophy, psychology hal 9
Adelbert Snijders, Antropologi Filsafat manusia paradoks dan seruan, (penerbit Kanisius,tahun 2004), hal 98.
Lorens Bagus, Kamus Filsafat ( Grameda Pustaka Utama,Jakarta 2000) hal 570
N.H.N Abu Baker, Mulla Shadra, Theory of Soul in the context of Aristotle

Thomas Aquinas . Everyman Library, philosophy and theology. The Rev, Father m.C D.archy (ed) Londob London j.m .Dent and Song Ltd, 1950.

Fadhlullah Khaliqiyan
Lihat: Jiwa dalam Pandangan para Filosof Muslim, Dr.Muhammad Utsman Najati
Dr. Seyyed Mohsen Mirri, Manusia Sempurna (Mizan-Icas)
http://www.muslimphilosophy.com/ip/rep/H010.htm-dikutip hari jumat, 29 oktober -09,jam 10-30
Mulla Sadra: His teaching Seyyed Hossein Nasr in history of Islamic philosophy,
Mulla Sadra : His life and Works by Hossein Ziai, in history of Islamic philosophy, hal 635
Mulla Sadra: His teaching Seyyed Hossein Nasr in history of Islamic philosophy, 655
Asfat al-‘arba’ah juz 9, hal 86


Degradasi Jiwa dan akar dari Kejahatan Manusia
Dalam Filsafat Jiwa Mulla Shadra

Bab 1

1. 1. Latar belakang Masalah

Beberapa tahun belakangan ini Masyarakat Indonesia dicekam kejadian-kejadian kriminal. Koran-koran nasional mengulas beragam peristiwa dari yang biasa hingga yang luar biasa terkait dengan pola pembunuhan dengan cara-cara yang sadis. Dan Puncak dari kesadisan itu adalah apa yang dilakukan seorang gay bernama Ryan dengan membantai teman-temannya yang sebagian besar adalah teman kencannya dan kemudian tubuh yang sudah mati itu dimutilasi dan dikuburkan di depan rumahnya. Tim psikiater kepolisian menyatakan bahwa Ryan alisan Verry Idham Henriyansah (34) tahun dapat digolongkan sebagai psikopat dan hasil test juga menunjukan bahwa Ryan melakukan seluruh kejahatannya dalam kondisi normal dan sadar. Meskipun status psikopat Ryan itu masih controversial dan perlu dibuktikan secara mendalam dan bukan hanya mengandalkan gejala-gejalanya saja. Namun meningkatnya kejahatan manusia adalah problem yang sangat serius, Erich From bahkan mengatakan dalam pendahuluan untuk bukunya bahwa meningkatkan kekejaman manusia pada skala nasional dan internasional telah banyak menarik perhatian kaum profesional dan khalayak ramai untuk memajukan pertanyaan teoritis mengenai sifat dan penyebab agresi.
Bagi para filsuf yang memandang manusia sebagai perwujudan dari watak keburukan dan para penganut hedonisme, dan sebagian filsuf empirisme seperti mendapat justifikasi dengan kejadian-kejadian di atas. Sebagian filsuf yang memahami watak manusia cenderung buruk menegaskan bahwa manusia merupakan srigala bagi sesamanya dan manusia itu dalam daya geraknya bersifat agresif dan jahat. Hsun-tzu, filsuf dari timur juga mengatakan bahwa sifat manusia adalah evil, kebaikan adalah hasil dari aktifitas yang sadar. F.Skiner juga mengatakan bahwa manusia berhak melakukan segala sesuatu bahkan jika bisa, juga berhak menjatuhkan dewa. Bahkan pembunuhan boleh saya lakukan semau-maunya, asal saya bisa dan suka?!
Munculnya manusia yang berani dan dengan tanpa perasan bersalah melakukan berbagai jenis kejahatan yang tanpa batas dan bahkan sulit dibayangkan keluar dari manusia menimbulkan tanda tanya besar bagi yang memiliki hati nurani; apakah esensi dari manusia itu dan mengapa ada manusia seperti itu? Apakah mereka telah kehilangan rasa kemanusiaannya? Apa yang menyebabkan individu-individu seperti itu melakukan perbuatan yang sangat biadab? Apakah ia berhak melakukan segala sesuatu yang ingin dilakukannya ? Dan mengapa ia mau melakukan itu? Apa yang menyebabkan manusia menjadi jahat faktor yang paling dominan sehingga siapapun dengan latar belakang agama apapun bisa menjadi manusia yang jahat, manusia yang rakus akan harta, mau melakukan perampokan uang orang lain baik dengan cara halus atau cara kasar, mau melakukan pengrusakan dan melakukan hal yang merugikan orang lain baik dalam skala massa atau pun dalam sekecil apapun. Apakah ada yang bermetamorfosis dalam dirinya sehingga ia mengalami proses menjadi entitas lain yang lebih buruk? Untuk mengetahuinya tentu kita harus memahami esensi dari manusia itu sendiri.
Manusia memang suatu kesatuan,tetapi di dalam kesatuan itu tampak adanya suatu keduaan (jiwa-badan/spirit-matter). Artinya untuk memahami manusia tampaknya kita tidak bisa terpaku dengan urusan fisiologis semata yang kasat mata, kita harus menggali ke dalam diri manusia yaitu unsur psikologisnya.
Berkaitan dengan jiwa dan raga ini merentang berbagai pendapat. Pertama Para filsuf yang sering tergoda untuk mereduksi dimensi yang satu kepada dimensi yang lain. Manusia sulit berdamai dengan kenyataan yang bersifat paradoksal. Maka dalam materialisme Feurbach dan dalam saintisme zaman sekarang hal yang rohaniah direduksi kepada materi, sehingga pandangan atas manusia menjadi materialisme.
Bagi para penganut monisme materialis kejahatan itu dilakukan dengan fisik bahkan motivasi itu sendiri adalah mekanisme tubuh; alias gerakan hidrolik dari sebuah daya hidrolik. Dengan demikian tubuhlah yang bertanggung jawab dari semua itu. Bahkan seperti Hobbes misalnya berpendapat bahwa manusia itu adalah tubuh sendiri.fisik,bahkan kesadaran atau mental sendiri semuanya adalah aktifitas fisik,jadi tidak ada entitas tersendiri yang bernama jiwa. Monisme material berpendapat bahwa yang asal atau yang orisinal adalah materi, yang tentu akan menolak spiritual atau ruh. Hobbes salah seorang pendukung monisma material (1588-1697) misalnya percaya bahwa segala sesuatu adalah fisik (Everything is body, Even God must have a body if he exists). Bagi dia bahkan mengkonsepi itu adalah aktifitas fisik yaitu gerakan-gerakan di dalam kepala bagian dalam, dan sensasi adalah gerakan internal di dalam sentient (yang berkesadaran), dan demikian juga dengan perasaan senang (pleasure) adalah tidak lain dari gerakan (motion) yang terjadi di dalam hati, dengan demikian baginya tidak ada yang namanya entitas jiwa yang berbeda atau di luar badan. semuanya adalah fisik dan ragawi, dan segala aktifitas-aktifitas yang non fisik seperti merasa, merasa (feeling), sedih, motivasi dan sebagainya kembali pada gerakan-gerakan mekanisme di dalam tubuh
Sementara dalam spiritualisme materi direduksi kepada roh, hingga kenyataan dunia tidak lain daripada bahasa komunikasi Allah dengan roh manusia (Berkeley) atau lebih merupakan penampakan sementara dalam gerakan dialektis Roh yang mutlak (Hegel).
Dalam dualisme Descartes, jiwa adalah substansi tunggal, yang tidak bersifat bendawi dan yang tidak dapat mati, jiwa memiliki sifat pemikiran sebagai sifat asasinya. Sementara sifat asasi tubuh adalah keluasan. Di antara jiwa dan tubuh ada pertentangan yang tak terjembatani. Kesatuan yang tampak hanya bersifat lahiriyah saja, sebab masing-masing mewujudkan hal yang berdiri sendiri.
Doktrin tentang jiwa memang memiliki tempat tersendiri dalam kajian filsafat, seperti yang dikatakan oleh Abu Bakar, There are a great variety of analyses as to the concept of soul in the vast framework of the metaphysical vision of philosopher and theosophers. Thus, the doctrine of soul occupies an importance place in history of thought. Saking pentingnya bahkan Aristoteles mengatakan pengetahuan tentang jiwa merupakan sebuah nilai yang tinggi dari keseluruhan kebenaran. Fadhlullah Khaliqiyan dalam makalahnya tentang jiwa dalam pandangan Ibnu Sina dan Descartes. Mengutip pernyataaan Aristoteles dari bukunya de Anima, terjemahan Dawudi
Aristoteles pernah mengatakan bahwa setiap ilmu itu dalam pandangan kami adalah indah dan layak mendapat apresiasi. Dengan semua ilmu ini kami memilih satu ilmu dari ilmu-ilmu yang lain. Karena itu adalah sangat rumit dan merupakan kajian yang terbaik dan termulia , dengan dua sebab ini, maka kita harus menempatkan kajian ilmu jiwa di peringkat pertama, sebab dengan ilmu jiwa ini kita akan memperoleh bantuan dalam mengetahui seluruh sisi hakikat.
Para Filsuf muslim sepakat bahwa aktor utama dalam dalam setiap aksi raga adalah jiwa. Jiwa dalam filsafat Islam memiki status ontologi sendiri. Rumi misalnya mengatakan, “Jiwa tidak dapat berfungsi tanpa raga; raga anda akan membeku kedinginan tanpa jiwa. Dr. Sham. C. Inati sendiri mengatakan bahwa The discussion of the human soul, its existence, nature, ultimate objective and eternity, occupies a highly important position in Islamic philosophy and forms its main focus.
Ditenggarai Mulla Shadra memiliki penjelasan yang lebih komprehensip dan holistik tentang jiwa dari pada pendahulunya, pertama karena sistem filsafatnya yang mengharmonisasikan berbagai aliran sebelumnya dan juga menyerap berbagai sumber dari al-quran dan hadis, yang kedua ia juga memikiki pemikiran yang orisinal dan membumi untuk zamannya. Dan yang menarik menurut Hossein Nasr sebagian eksposisi Teori jiwa Shadra tidak lepas dari ontologinya. Mulla Shadra sendiri mengatakan bahwa sebagian besar perbedaan-perbedaan yang ada di dalam sifat-sifat manusia kembali pada jiwa, baik jiwa yang mulia atau jiwa yang lemah dan rendah.

1.2 Rumusan masalah
Agar penelitian menjadi terfokus maka penulis membuat empat pertanyaan penting untuk penelitian ini :
1. Bagaimanakah pandangan Shadra tentang Kejahatan manusia
2. Bagaimanakan hubungan antara jiwa dan badan
3. Bagaimanakah proses terjadinya degradasi jiwa
4. Apa yang menjadi penyebab terjadinya degradasi jiwa

1.3 Tujuan penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mendapatkan penjelasan tentang teori kejahatan manusia
2. Untuk memperoleh gambaran tentang hubungan jiwa dan raga
3. Untuk memperoleh penjelasan bagaimana degradasi jiwa terjadi
4. Untuk memperoleh penjelasan apa yang menjadi penyebab degradasi jiwa

1. 4. Kegunaan penelitian
.Kegunaan dari penelitian ini diharapkan
1. Bisa melacak sumber dari akar kejahatan manusia
2. Mencari solusi filosofis untuk mengatasi akar kejahatan manusia itu sendiri.
1.5.Kajian pustaka
Perhatian timur dan barat terhadap karya-karya Mulla Shadra mulai marak menyusul diadakannya seminar-seminar yang diprakarsai Iran sendiri, tempat kelahirannya sang filsuf besar ini dan begitu pula dengan dicetak ulangnya karya-karyanya yang hampir semuanya bisa diselamatkan. Selain memang Filsafat hikmah muta’aliyah adalah filsafat lahir yang baru, lahir di abad ke duapuluh yang selalu menarik untuk dikaji sebab filsafat ini mengharmonisasikan filsafaf peripatetik, filsafat iluminatif, yunani, teologi, dan seluruh sumber-sumber ajaran-ajaran Islam, seperti al-Quran dan hadis.
Perhatian akademik misalnya dengan lahirnya kajian-kajian ilmiah seputar tema-tema umum dari ontologi, etika, fisika, tasawuf hingga psikologi. Kalau sebelumnya karya-karya tulis tentang Shadra baik dalam bahasa Persia, Arab dan Inggris didominasi oleh tema-tema yang umum, maka sekarang para ilmuwan baik dari negeri Iran sendiri ataupun dari luar mulai mengkaji secara khusus tentang konsep-konsep yang lebih spesifik. Karena ternyata justru disanalah ditemukan keistimewaan dan kekhasan dari filsafat hikmah muta’aliyahnya.
Salah satu konsep Shadara yang mulai mendapatkan perhatian penting adalah teori tentang psikologisnya. Ada beberapa artikel yang juga mengupas tentang teori psikologisnya; di antaranya teori jiwa dan kebangkitan, implikasi konsep jiwa Mulla Shadra terhadap psikologi, Neo Platonik Shadra dan konsep jiwanya, Eskatologis, perjalanan jiwa Shadra. Konsep jiwa dan tubuh dalam filsafat Shadra, Ali Zamani Qumseh tentang eskatologi, tero Shadra tentang akal amali yang juga sebenarnya berkaitan dengan konsep jiwa dsb.
Kajian-kajian tentang tentang teori jiwa (psikologi) Mulla Shadra sebagian besar didominasi oleh paper-paper seperti :
1. Ruh aflatunî dar falsafeh Mulla Shadra (Spirit Plato dalam filsafat Mulla Shadra) dalam bahasa persia, karya Sayid Muhammad Khamanei. Ini adalah paper yang menjelaskan konsep dan definisi jiwa perbedaan dan persamaanya dengan para pendahulunya dari para filsuf Isyraqi, Peripatetik dan Plato.
2. Dar Amadî bar insan shenasi mulla Shadra (Implikasi dari filsafat manusia menurut Mulla Shadra), sebuah makalah dalam bahasa persia karya Ridha Zadeh. yaitu sebuah pemaparan sosiologi manusia; kedudukan manusia dalam filsafat Hikmah Muta’aliyah Shadra dan kajian filsafat manusia di tengah-tengah kajian tentang manusia kontemporer. Intinya bahwa konsep antropologi Shadra tidak bisa dipisahkan dengan metafisika dan kosmologinya. Makalah ini juga membicarakan hubungannya tentang fakultas-fakultas jiwa dan empat jenis akal (yaitu akal mustafad, akal potensi dan akal bilmalakah) serta relasi jiwa dan dunia akal dengan cara melakukan purifikasi.
3. Mas`alah nafs dar ara Ibnu Sina wa Dekart (Diskursus jiwa menurut perspektif Ibnu Sina dan Descartes), makalah dalam bahasa persia, karya Fadhlullah Khaliqiyan. Ini adalah makalah komparatif tentang jiwa dalam pandangan ketiga filsuf, yang memang secara khusus memiliki perhatian tersendiri tentang jiwa.
4. Haqiqat insn wa zaygha dar nizam haste (Hakikat manusia dan kedudukan dalam tataran ontologis). Ini adalah paper tentang sejauh mana hakikat manusia itu dapat diketahui. Bahwa manusia itu adalah hakikat dua martabat, yaitu martabat raga dan martabat pasca raga.
5. Eskatalogis Mulla Shadra karya Dr. Kholid al-Walid, sebuah disertasi untuk menganalisas kebangkitan jiwa di hari akhirat, proses perjalanan jiwa dan problematika tentang jiwa pasca kematiannya dalam hubungannya dengan badan, menurut teori psikologi Mulla Shadra. Disertasi ini menyimpulkan bahwa pandangan eskatologi yang digagas Mulla Sadra adalah pandangan eskatologi yang didasari argumentasi rasional dan berkesesuaian dengan doktrin teologis dan hasil intuitif irfani, sehingga pandangan eskatologi yang di gagas Mulla Sadra mampu memberikan solusi bagi persoalan-persoalan eskatologi yang terjadi.
6. Rabiteh nafs wal badan wa payamadeha dar rawan senosi (Relasi antara jiwa dan badan dan implikasinya terhadap psikologi), dalam bahasa persia, karya Kharazi. Tiitik fokus paper ini adalah menjelaskan bahwa jiwa itu awalnya bersifat jasmani dan kemudian berkembang menjadi abadi sebagai jiwa/ruh dan tubuh dan jiwa juga adalah satu. Makalah ini analisanya kurang dan tidak didukung oleh argument-argumen yang banyak, selain itu penulis hanya merujuk kepada kitab Mulla Shadra sendiri.
7. Nadzare Mulla Shadra wa ahadis Syiah imamiyah dar bareh khastgah insane dar azal wa huduts dar zaman (Konsep Mulla Shadra dan hadis-hadis syiah imamiyah tentang posisi manusia di alam azali dan hudus di zaman). Paper dalam bahasa persia karya Maria Dakake. Paper berusaha memaparkan posisi manusi dan juga pendaat mulla shadra tentang hari kiamat dengan membandingkan pada hadis-hadis syiah tentang itu. Penulis juga menelaborasi perjalanan manusia dari azal, tanah, dan seterusnya.
8. The Degrees of the Soul According to Ibn ‘Arabî and Mullâ Sadrâ” dalam Transcendent Philosophy, Vol 1, No 3, Des 2000. Terjemahan Persia-Inggris oleh Reza Shah-Kazemi dan Mohammad Khalfan. Karya Husan Waizi ini mungkin paper yang agak lebih ilmiah dari artikel-artikel di atas. tapi tulisan ini pada ujung-ujungnya hanya mengangkat hubungan jiwa dan badan.
9. Nafs insan, (jiwa manusia) artikel ini membahas tentang pandangan jiwa dalam menurut Plato dan Aristoteles, kemudian definisi jiwa, bagaimana jiwa itu terbentuk dan tentu saja seperti halnya artikel-artikel dari lain terlalu sederhana dan to the point, dan hanya menyajikan garis besarnya pemikiran dan kesimpulan-kesimpulan saja.
10. Rabitheh nafs wa badan az didgah Shadra, (Hubungan jiwa dan badan dalam pendangan Mulla Shadra) dalam bahasa persia, karya Dr. Latifeh Peerwani Latimah Parvin, yang diulas dalam artikel ini adalah konsep badan, konsep jiwa dan kemudian masalah otak. Ia mengatakan bahwa filsafat Mula Shadra membahas hubungan badan dan jiwa secara filosofis yaitu dengan menggunakan teori gradasi wujud.
11. Ta`tsir talaqqi Shadra za nafs insani dar halle mu’dhilate falsafeh islami ( Implikasi pandangan Shadra terhadap jiwa dan pengaruhnya dalam mengatasi berbagai probelma filsafat Islam) makalah dalam bahasa persia di tulis oleh Abbas Haj Zaynal Abidin. Penulis intinya menyimpulkan bahwa teori jiwa shadra memiliki perbedaan yang besar dengan para filsuf pendahulunya dan dan kemudian penulis juga memaparkan prinsip-prinsip filsafat psikologi dan kemudian ia juga mengelaborasi solusi Shadra tentang isu qadim (prior) dan hudustnya jiwa serta bagaimana menjadi abadi, dan isu tentang wujud dzihni (wujud mental).

Maka penulis berkesimpulan bahwa belum ada kajian yang lengkap dan ilmiah tentang proses degradasi jiwa dalam tubuh manusia, khususnya dalam hubungannya dengan munculnya kejahatan tak terbatas dari manusia dan bagaimana proses metamorfosis jiwa bisa terjadi setiap momen dalam pandangan Mulla Shadra.

1.6. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penulisan tesis ini adalah metode deskriptif-analisis. Metode deskriptif digunakan untuk mengkaji riwayat hidup Mulla Shadra, kondisi sosial yang membentuk perkembangan pemikirannya, dan perkembangan intelektual antara dia dengan para pendahulunya. Sedangkan analisis digunakan untuk mengkaji pemikiran Mulla Shadra tentang kejahatan, teori ilmu jiwa, relasi jiwa dan badan, degradasi jiwa dan penyebabnya. .
1.7. Sistematika Penulisan
Pembahasan masalah dalam penelitian ini akan disusun berdasarkan sistematika yang dibuat sebagaimana berikut ini.
Bab pertama merupakan bab pendahuluan. Di dalam bab ini, akan dipaparkan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, kajian pustaka, metode penelitian, serta sistematika penulisan.
Bab kedua akan dimulai dengan menerangkan sketsa biografis Mulla Shadra, mulai dari masa kecilnya, perjalanan intelektualnya, berikut karya-karya yang lahir dari “rahim” pemikirannya. Dalam bab ini akan diuraikan juga tokoh-tokoh yang mempengaruhi pemikirannya tersebut.
Bab ketiga, konsep kejahatan dalam pemikiran Mulla Shadra
Bab keempat, Penjelasan tentang relasi antara jiwa dan badan dan juga sedikit penjelasan tentang konsep harakah jawhariyah.
Bab kelima, Penjelasan tentang degradasi jiwa
Bab keenam, Sebab-sebab yang menjadi akar dari degradasi jiwa.


(6 oktober 2009-27 oktober)
Proposal Tesis
Degradasi Jiwa dan akar dari Kejahatan Manusia
Dalam filsafat Jiwa Mulla Shadra

Bab 1

1. 1. Latar belakang Masalah
Beberapa tahun belakangan ini Masyarakat Indonesia dicekam kejadian-kejadian kriminal. Koran-koran nasional mengulas beragam peristiwa dari yang biasa hingga yang luar biasa terkait dengan pola pembunuhan dengan cara-cara yang sadis. Dan Puncak dari kesadisan itu adalah apa yang dilakukan seorang gay bernama Ryan dengan membantai teman-temannya yang sebagian besar adalah teman kencannya dan kemudian tubuh yang sudah mati itu dimutilasi dan dikuburkan di depan rumahnya.Tim psikiater kepolisian menyatakan bahwa Ryan alisan Verry Idham Henriyansah (34) tahun dapat digolongkan sebagai psikopat dan hasil test juga menunjukan bahwa Ryan melakukan seluruh kejahatannya dalam kondisi normal dan sadar.
Meskipun status psikopat Ryan itu masih controversial dan perlu dibuktikan secara mendalam dan bukan hanya mengandalkan gejala-gejalanya saja. Namun isu psikopat memang patut dianggkat mengingat bahwa seperti yang dikatakan oleh oleh seorang ahli, ia bisa hadir dimana-mana dan bahkan muncul dari orang-orang baik-baik yang mungkin memiliki tempat yang terhormat.
Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/psikosis) karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut “orang gila tanpa gangguan mental”. Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau di rumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan [1]. Dalam kasus kriminal, psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, dan koruptor. Namun, ini hanyalah 15-20 persen dari total psikopat. Selebihnya adalah pribadi yang berpenampilan sempurna, pandai bertutur kata, mempesona, mempunyai daya tarik luar biasa dan menyenangkan [2].
Kata Dr Robert Hare psikopat bergentayangan di sekitar kita. Mereka bisa berada di kantor, tempat olahraga, arena hiburan, bahkan di lingkungan terdekat, seperti tetangga, suami atau pacar sekalipun. Sepintas, gelagat mereka tidak kelihatan seperti orang yang punya kelainan. Pasalnya, secara tampak mata mereka terlihat menarik, pintar dan berlaku seperti orang normal lainnya.
Bagi para filsuf yang memandang manusia sebagai perwujudan dari watak keburukan tentu seperti mendapat justifikasi dengan kejadian-kejadian di atas. Seperti yang dianut oleh Sigmun Freud , para penganut utilitarianisme, hedonisme, dan sebagian filsuf empirisme seperti Thomas Hobes yang memahami watak manusia cenderung buruk. Thomas Hobbes menegaskan bahwa manusia merupakan srigala bagi sesamanya. Hobbes, yang memang hidup dalam pergolakan zaman, berpendapat bahwa manusia itu dalam daya geraknya bersifat agresif dan jahat.
Hsun-tzu juga mengatakan bahwa sifat manusia adalah evil, kebaikan adalah hasil dari aktifitas yang sadar. F.Skiner juga mengatakan bahwa manusia berhak melakukan segala sesuatu bahkan jika bisa, juga berhak menjatuhkan dewa. Bahkan pembunuhan boleh saya lakukan semau-maunya, asal saya bisa dan suka?!
Perilaku menyimpang yang disebut dengan psycopat adalah salah satu tanda terjadi perubahan radikal dalam diri manusia. Itu menimbulkan tanda tanya besar bagi yang memiliki hati nurani; mengapa ada manusia seperti itu? Apakah mereka telah kehilangan rasa kemanusiaannya? Apa yang menyebabkan individu-individu seperti itu melakukan perbuatan yang sangat biadab? Apakah ia berhak melakukan segala sesuatu yang ingin dilakukannya ? Dan mengapa ia mau melakukan itu? Apa yang menyebabkan manusia menjadi jahat faktor yang paling dominan sehingga siapapun dengan latar belakang agama apapun bisa menjadi manusia yang jahat, manusia yang rakus akan harta, mau melakukan perampokan uang orang lain baik dengan cara halus atau cara kasar, mau melakukan pengrusakan dan melakukan hal yang merugikan orang lain baik dalam skala massa atau pun dalam sekecil apapun. Apakah ada yang bermetamorfosis dalam dirinya sehingga ia mengalami proses menjadi entitas lain yang tidak kasat mata? Atau seperti yang ditegaskan oleh Mulla Shadra, Sesungguhnya manusia selalu berubah-ubah dalam setiap momennya
Para ilmuwan menganalisa hal-hal tersebut melalui beragam perspektif ; baik dari faktor pendidikan, lingkungan hidup, faktor keturunan, penyakit mental dan sebagainya. Jika kita ingi menganalisa lebih dalam tentang manusia, maka kita akan menemukan dua hal dalam dirinya yaitu jiwa dan raga. Aristoteles sendiri mengatakan dalam De Anima :
Setiap tubuh yang hidup mestilah suatu substansi yang berkomposisi. Dan karena terdapat eksistensi semacam tubuh, jiwa mestilah bukan suatu tubuh, karena tubuh bukanlah sesuatu yang memiliki subjek melainkan eksis lebih sebagai subjek atau materi. Atau dengan kata lain Jiwa dalam pandangan Aristotels adalah suatu fungsi dari tubuh yang terorganisasi.
Kejahatan itu yang paling kasat mata adalah dilakukan dengan anggota tubuhnya. Pada awalnya tubuh itulah atau yang menubuh itulah yang melakukan tindakan-tindakan keji. Tangan yang bergerak,kaki yang melangkahkan dan motivasi itu sendiri adalah mekanisme tubuh; alias gerakan hidrolik dari sebuah daya hidrolik. Perbuatan jahat itu dilakukan dengan tangan,dengan tubuhnya. bagi para penganut monisme materialisme, bahwa manusia itu adalahtubuh sendiri, dengan demikian tubuhlah yang bertanggung jawab dari semua itu.Dan bagi seorang filsuf Hobbes bahkan bahwa manusia itu adalah tubuh sendiri.fisik,bahkan kesadaran atau mental sendiri semuanya adalah aktifitas fisik,jadi tidak ada entitas tersendiri. Tapi seperti yang dikatakan oleh Aquinas bahwa dengan menyatakan bahwa tubuh dan jiwa adalah sama, sama saja dengan mengingkari realitas immaterial jiwa. karena itu Aquinas menolak anggapan bahwa jiwa adalah tubuh itu sendiri. Jiwa manusia adalah subsisten
Bagi para penganut monisme, yang mengasalkan segala sesuatu kepada satu jenis baik itu spiritual atau material. monisme spiritual mengasalkan bahwa yang asal adalam ruh atau spiritual, tentu akan mengabaikan tubuh dan sebaliknya monisme material yang berpendapat bahwa yang asal atau yang orisinal adalah materi, tentu akan menolak spiritual atau ruh. Hobbes (1588-1697) misalnya percaya bahwa segala sesuatu adalah fisik (Everything is body, Even God must have a body if he exists). Bagi bahkan mengkonsepi itu adalah aktifitas fisik yaitu gerakan-gerakan di dalam kepala bagian dalam, dan sensasi adalah gerakan internal di dalam sentient, dan demikian juga dengan perasaan senang (pleasure) adalah tidak lain dari gerakan (motion) yang terjadi di dalam hati. dengan demikian baginya tidak ada yang namanya entitas jiwa yang berbeda atau di luar badan. semuanya adalah fisik dan ragawi, dan segala aktifitas-aktifitas yang non fisik seperti merasa, feeling, sedih, motivasi dan sebagianya kembali pada gerakan-gerakan mekanisme di dalam tubuh. Bahkan berpikir sendiri (thinking) misalnya hanyalah sekedar dipostulasikan sebagai causally yang bergantung pada gerakan di dalam kepala (merely causallu dependent on motions in the head).
Para filsuf muslim sepakat bahwa aktor utama dalam dalam setiap aksi raga adalah jiwa dan Jiwa dalam filsafat Islam memiki status ontologi sendiri. Rumi misalnya mengatakan, “Jiwa tidak dapat berfungsi tanpa raga; raga anda akan membeku kedinginan tanpa jiwa. Bahkan Descartes juga menyatakan bahwa tubuh tanpa jiwa hanya akan menjadi otomat belaka yang digerakan secara mekanis oleh stimulus eksternal dan kondisi-kondisi hidrolik internal atau “emosonal”- jadi tanpa kesadaran. Dan jiwa tanpa tubuh hanya memiliki ide-ide bawaan saja tanpa kesan-kesan inderawi.
Saking pentingnya bahkan Aristoteles mengatakan pengetahuan tentang jiwa merupakan sebuah nilai yang tinggi dari keseluruhan kebenaran. Doktrin tentang jiwa memang memiliki tempat tersendiri dalam kajian filsafat, seperti yang dikatakan oleh Abu Bakar, There are a great variety of analyses as to the concept of soul in the vast framework of the metaphysical vision of philosopher and theosophers. Thus, the doctrine of soul occupies an importance place in history of thought.
Fadhlullah Khaliqiyan dalam makalahnya tentang jiwa dalam pandangan Ibnu Sina dan Descartes. Mengutip pernyataaan Aristoteles dari bukunya de Anima, terjemahan Dawudi
Aristoteles pernah mengatakan bahwa setiap ilmu itu dalam pandangan kami adalah indah dan layak mendapat apresiasi. Dengan semua ilmu ini kami memilih satu ilmu dari ilmu-ilmu yang lain. Karena itu adalah sangat rumit dan merupakan kajian yang terbaik dan termulia , dengan dua sebab ini, maka kita harus menempatkan kajian ilmu jiwa di peringkat pertama, sebab dengan ilmu jiwa ini kita akan memperoleh bantuan dalam mengetahui seluruh sisi hakikat.
Mulla Shadra sendiri mengatakan bahwa sebagian besar perbedaan-perbedaan yang ada di dalam sifat-sifat manusia kembali pada jiwa, baik jiwa yang mulia atau jiwa yang lemah dan rendah.
The discussion of the human soul, its existence, nature, ultimate objective and eternity, occupies a highly important position in Islamic philosophy and forms its main focus. For the most part Muslim philosophers agreed, as did their Greek predecessors, that the soul consists of non-rational and rational parts. The non-rational part they divided into the plant and animal souls, the rational part into the practical and the theoretical intellects. All believed that the non-rational part is linked essentially to the body, but some considered the rational part as separate from the body by nature and others that all the parts of the soul are by nature material. The philosophers agreed that, while the soul is in the body, its non-rational part is to manage the body, its practical intellect is to manage worldly affairs, including those of the body, and its theoretical intellect is to know the eternal aspects of the universe.
1.2 Rumusan masalah

Meskipun jiwa memang memiliki arti penting tapi masih belum jelas bagaiaman hubungan antara jiwa dan tubuh tersebut? Apakah filsafat islam dapat memberikan solusi atas problem hubung ajiwa dan raga tersebut/
Agar penelitian menjadi terfokus maka penulis membuat empat pertanyaan penting untuk penelitian ini :
1. Bagaimanakah pandangan Shadra tentang Kejahatan manusia
2. Bagaimanakan hubungan antara jiwa dan badan
3. Bagaimanakah terjadi proses degradasi jiwa
4. Apa yang menjadi penyebab terjadinya degradasi jiwa

1.3 Tujuan penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mendapatka kejelasan tentang teori kejahatan manusia
2. untuk mendapatkan penjelasan filosofis tentang hubungan jiwa dan raga
3. Untuk menguak bagaimana degradai jiwa terjadi
4. Apa yang menjadi penyebab degradasi tersebut

1. 4. Kegunaan penelitian
.Kegunaan dari penelitian ini diharapkan
1. Bisa melacak sumber dari akar kejahatan manusia
2. Mencari solusi filosofis untuk mengatasi akar kejahatan manusia itu sendiri.
1.5Kajian pustaka
Perhatian timur dan barat terhadap karya-karya Mulla Shadra mulai marak menyusul diadakannya seminar-seminar yang diprakarsai Iran sendiri tempat kelahirannya sang filsuf besar ini dan begitu pula dengan dicetak ulangnya karya-karyanya yang hampir semuanya bisa diselamatkan. Selain memang Filsafat hikmah muta’aliyah adalah filsafat lahir yang baru, lahir di abad ke duapuluh yang selalu menarik untuk dikaji sebab filsafat ini mengharmonisasikan filsafaf peripatetik, filsafat iluminatif, yunani, teologi, dan seluruh sumber-sumber ajaran-ajaran Islam.
Perhatian akademik misalnya dengan lahirnya kajian-kajian ilmiah seputar tema-tema umum dari ontologi, etika, fisika, tasawuf hingga psikologi. Kajian-kajian tentang tentang teori jiwa (psikologi) Mulla Shadra sebagian besar didominasi oleh paper-paper seperti :
1. Ruh aflatunî dar falsafeh Mulla Shadra (Spirit Plato dalam filsafat Mulla Shadra) dalam bahasa persia, karya Sayid Muhammad Khamanei. Ini adalah paper yang menjelaskan konsep dan definisi jiwa perbedaan dan persamaanya dengan para pendahulunya dari para filsuf Isyraqi, Peripatetik dan Plato.
Dar Amadî bar insan shenasi mulla Shadra (Implikasi dari filsafat manusia menurut Mulla Shadra), sebuah makalah dalam bahasa persia karya Ridha Zadeh. yaitu sebuah pemaparan sosiologi manusia; kedudukan manusia dalam filsafat Hikmah Muta’aliyah Shadra dan kajian filsafat manusia di tengah-tengah kajian tentang manusia kontemporer. Intinya bahwa konsep antropologi Shadra tidak bisa dipisahkan dengan metafisika dan kosmologinya. Makalah ini juga membicarakan hubungannya tentang fakultas-fakultas jiwa dan empat jenis akal (yaitu akal mustafad, akal potensi dan akal bilmalakah) serta relasi jiwa dan dunia akal dengan cara melakukan purifikasi.
3. Mas`alah nafs dar ara Ibnu Sina wa Dekart (Diskursus jiwa menurut perspektif Ibnu Sina dan Descartes), makalah dalam bahasa persia, karya Fadhlullah Khaliqiyan. Ini adalah makalah komparatif tentang jiwa dalam pandangan ketiga filsuf, yang memang secara khusus memiliki perhatian tersendiri tentang jiwa.

Lembaga yang sering mengadakan seminar dengan mengundang para pakar dari barat dan timur adalah Siprin. Kontribusi para pakar dalam seminar-seminar ini yang kemudian diterbitkan menjadi jurnal ilmiah sekalipun hanya dalam bentuk paper yang ringkas cukup mewarnai seluruh spectrum pemikiran Mulla Shadra dari ontology, epistemology, Aksiologi,eskatologis,psikologis dan bahkan politik.
Usaha lain yang cukup berhasil adalah menghidangkan tulisan-tulisan kompatarip, analisa sintesis antara pemikiran-pemikiran Mulla Shadra dan para filsuf barat.

Kalau sebelumnya karya-karya tulis tentang Shadra baik dalam bahasa Persia, Arab dan Inggris didominasi oleh tema-tema yang umum, maka sekarang para ilmuwan baik dari negeri Iran sendiri ataupun dari luar mulai mengkaji secara khusus tentang konsep-konsep yang lebih spesifik. Karena ternyata justru disanalah ditemukan keistimewaan dan kekhasan dari filsafat hikmah muta’aliyahnya.

Adalah Henri Corbin yang mula-mula menemukan kejeniusan seorang Shadra

Salah satu konsep Shadara yang mulai mendapatkan perhatian penting adalah teori tentang psikologisnya. Ada beberapa artikel yang juga mengupas tentang teori psikologisnya; di antaranya teori jiwa dan kebangkitan, implikasi konsep jiwa Mulla Shadra terhadap psikologi, Neo Platonik Shadra dan konsep jiwanya, Eskatologis, perjalanan jiwa Shadra. Konsep jiwa dan tubuh dalam filsafat Shadra, Ali Zamani Qumseh tentang eskatologi, tero Shadra tentang akal amali yang juga sebenarnya berkaitan dengan konsep jiwa dsb.

Paper-paper tersebut umumnya sangat ringkat dan to the point, tidak ada analisa dan seringkali mengabaikan standar-standar ilmiah yang harus ada dalam sebuah jurnal. Misalnya dari segi referensi tidak cukup memenuhi standar sebuah jurnal ilmiah,

- Haqiqat insn wa zaygha dar nizam haste (Hakikat manusia dan kedudukan dalam tataran ontologis). Ini adalah paper tentang sejauh mana hakikat manusia itu dapat diketahui. Bahwa manusia itu adalah hakikat dua martabat, yaitu martabat raga dan martabat pasca raga,
- Eskatalogis Mulla Shadra karya Dr. Kholid al-Walid, sebuah disertasi untuk menganalisas kebangkitan jiwa di hari akhirat, proses perjalanan jiwa dan problematika tentang jiwa pasca kematiannya dalam hubungannya dengan badan, menurut teori psikologi Mulla Shadra. Disertasi ini menyimpulkan bahwa pandangan eskatologi yang digagas Mulla Sadra adalah pandangan eskatologi yang didasari argumentasi rasional dan berkesesuaian dengan doktrin teologis dan hasil intuitif irfani, sehingga pandangan eskatologi yang di gagas Mulla Sadra mampu memberikan solusi bagi persoalan-persoalan eskatologi yang terjadi.
- Rabiteh nafs wal badan wa payamadeha dar rawan senosi (Relasi antara jiwa dan badan dan implikasinya terhadap psikologi), dalam bahasa persia, karya Kharazi. Tiitik fokus paper ini adalah menjelaskan bahwa jiwa itu awalnya bersifat jasmani dan kemudian berkembang menjadi abadi sebagai jiwa/ruh dan tubuh dan jiwa juga adalah satu. Makalah ini analisanya kurang dan tidak didukung oleh argument-argumen yang banyak, selain itu penulis hanya merujuk kepada kitab Mulla Shadra sendiri.
- Nadzare Mulla Shadra wa ahadis Syiah imamiyah dar bareh khastgah insane dar azal wa huduts dar zaman (Konsep Mulla Shadra dan hadis-hadis syiah imamiyah tentang posisi manusia di alam azali dan hudus di zaman). Paper dalam bahasa persia karya Maria Dakake. Paper berusaha memaparkan posisi manusi dan juga pendaat mulla shadra tentang hari kiamat dengan membandingkan pada hadis-hadis syiah tentang itu. Penulis juga menelaborasi perjalanan manusia dari azal, tanah, dan seterusnya.
- Aktifitas-aktifitas Jiwa menurut Mulla Shadra dan Ibnu Arabi,
- The Degrees of the Soul According to Ibn ‘Arabî and Mullâ Sadrâ” dalam Transcendent Philosophy, Vol 1, No 3, Des 2000. Terjemahan Persia-Inggris oleh Reza Shah-Kazemi dan Mohammad Khalfan. Karya Husan Waizi ini mungkin paper yang agak lebih ilmiah dari artikel-artikel di atas. tapi tulisan ini pada ujung-ujungnya hanya mengangkat hubungan jiwa dan badan.
- Nafs insan, (jiwa manusia) artikel ini membahas tentang pandangan jiwa dalam menurut Plato dan Aristoteles, kemudian definisi jiwa, bagaimana jiwa itu terbentuk dan tentu saja seperti halnya artikel-artikel dari lain terlalu sederhana dan to the point, dan hanya menyajikan garis besarnya pemikiran dan kesimpulan-kesimpulan saja.
- Rabitheh nafs wa badan az didgah Shadra, (Hubungan jiwa dan badan dalam pendangan Mulla Shadra) dalam bahasa persia, karya Dr. Latifeh Peerwani Latimah Parvin, yang diulas dalam artikel ini adalah konsep badan, konsep jiwa dan kemudian masalah otak. Ia mengatakan bahwa filsafat Mula Shadra membahas hubungan badan dan jiwa secara filosofis yaitu dengan menggunakan teori gradasi wujud
- Ta`tsir talaqqi Shadra za nafs insani dar halle mu’dhilate falsafeh islami ( Implikasi pandangan Shadra terhadap jiwa dan pengaruhnya dalam mengatasi berbagai probelma filsafat Islam) makalah dalam bahasa persia di tulis oleh Abbas Haj Zaynal Abidin. Penulis intinya menyimpulkan bahwa teori jiwa shadra memiliki perbedaan yang besar dengan para filsuf pendahulunya dan dan kemudian penulis juga memaparkan prinsip-prinsip filsafat psikologi dan kemudian ia juga mengelaborasi solusi Shadra tentang isu qadim (prior) dan hudustnya jiwa serta bagaimana menjadi abadi, dan isu tentang wujud dzihni (wujud mental).
Maka penulis berkesimpulan bahwa belum ada kajian yang lengkap, ilmiah tentang proses degradasi jiwa dalam tubuh manusia, khususnya dalam hubungannya dengan munculnya kejahatan tak terbatas dari manusia. Bagaimana proses metamorfosi jiwa bisa terjadi setiap momen dalam pandang Shadra.


Summary

The background of thesis

In recent year Indonesia witnessed some case of mutilation and in the end of brutality is over come by a young guy ( guy who have a some of sindrom of psychopath, as killing many people brutally. Psychopath can kill or harm people at once, and that’s why the psychopath problem is so controversial
This lead a big question why a man which have o divinity form and respectively become a monster? What going on, what happen within them? Is there any motion, changes in his manner or his self?
This thesis is to be take to elucidate the problem from is root, means soul. Soul is very vital to human being even have been neglected in western for long time, is Islamic philosophy soul have ontology basis. Even there are a long discussion between soul and body or is what kind of relation between body and soul to be regarded?
Some of philosopher like Descarter believe that human thought is highest entity from body, mind have a priority from body. Even thought have a prior that world and mind is sepatered from body. So for him the mind is actof behind of all activity? And popular as dualisme. For

The discussion of the human soul, its existence, nature, ultimate objective and eternity, occupies a highly important position in Islamic philosophy and forms its main focus. For the most part Muslim philosophers agreed, as did their Greek predecessors, that the soul consists of non-rational and rational parts. The non-rational part they divided into the plant and animal souls, the rational part into the practical and the theoretical intellects. All believed that the non-rational part is linked essentially to the body, but some considered the rational part as separate from the body by nature and others that all the parts of the soul are by nature material. The philosophers agreed that, while the soul is in the body, its non-rational part is to manage the body, its practical intellect is to manage worldly affairs, including those of the body, and its theoretical intellect is to know the eternal aspects of the universe.

They thought that the ultimate end or happiness of the soul depends on its ability to separate itself from the demands of the body and to focus on grasping the eternal aspects of the universe. All believed that the non-rational soul comes into being and unavoidably perishes. Some, like al-Farabi, believed that the rational soul may or may not survive eternally; others, like Ibn Sina, believed that it has no beginning and no end; still others, such as Ibn Rushd, believed that the soul with all its individual parts comes into existence and is eventually destroyed.

The discourse of the human soul, its existence, nature, ultimate objective and eternity, occupies a higly important position on Islamic philosophy and forms its main focus. For the most part Muslim philosopher agreed as did their Greek predecesors.

One of the leading philosopher who more concern to soul is Mulla Shadra. Mulla Shadra in his theory of soul postulated the motion of soul, metamorfosis of soul from one being to another being even to the worst entity. In other words mulla shadra believes that soul my object of degradation due to many causes.

This Thesis also will elaborate the evils or the bad action conduct by human being and its relation to soul. So soul is not like body, have a different aspect and unique and must be understood by a good philosopher.

A live as if not free from criminality, terrorist action, missal killing, corruption,kidnapped which …..by human being, indee an increasing criminality is fastly, even in bigmoslem country Indonesia, in recent year a new coming pscycopat
Is coming in to present.
In This lead a crucial question what happen whitin human being, are there really change into monster.Of course there are many investigation from many saintis. Here I like do develop a view of Sadra on metamorfoshis soul in frame his soul’stheory.

Soul adalah jawabannya

To investigate the problem from we should to look a inner force whitn human being which neglected for many years as psyologia claim divorce from philosophy the trouble began when psychologist claimed the status of empirical scientis.
If human being is realy a soul,so we sougt the scret from his soul Mulla Sadra bought “a new philosophical insight in dealing with soul.
Which formely an account of Sadra about criminality might to be explained before going in to ekplanation obout soul itself.

Sadra has develop a notion of soul, body and soul, substantive transformation. According to Sadra according to sadra, soul by harakah jauhariyah change into one momen to another momen

There are a great variety of analyses as to the concept of soul in the vast framework of the metaphysical vision of philosopher and theosophers. Thus, the doctrine of soul occupies an importance place in history of thought

In Hikmah Muta’aliyah there are a vast introduction and philosopicah analytic in regarding of soul.

Teori jiwa shadra

Shadra to be coosen because he make a extraordinary explanation about soul and develop perfectly and add some of extra analytic philosophy by using his notion about existence, substance of transformation, and changeless motion.

So if the essence of human being is soul, definitely there are many answer from soul, and in sadra notion we find more

There are lot of …..from many of researcher.

What is the source of criminalisme in Shadra view
Anda what is relation between body and soul
And what happening with soul?

Of course there are long discussion between philosopher and especially in western philosopher there are monisme, materialism anda idealisme. But I just to prefer to see what going on with his soul, as source of without denied the potentiality of body in relation of action?

If such a thing exists, you can look at the ideas of the “Monists” and the “Dualists”

Monists believe that the soul, mind and body are one and the same – and with the death of the body, the mind and soul end.

Dualists believe that the body and the soul are two different things. They do not ponder where it goes after death, because it would be like cutting a boat free from it’s anchor.


Kata-kata yang mencerahkan lebih berharga dari intan mutiara (Inayat Khan)

Al-Quran dalam sumber inspirasi yang lebih dahsyat dari kata-kata mutiara. Sumber pencerahan yang tak ada habis-habisnya. Sumber kebaikan untuk setiap zaman. Penawar bagi segala penyakit dan bahan refleksi yang akan memperkaya horizon manusia. Al-Quran adalah penyejuk bagi hati dan akal. Al-Quran adalah bacaan para kekasih-kasih Allah. al-Quran adalah sumber pengetahuan yang paling penting untuk mengetahui hakikat agama Islam itu sendiri, hakikat kehidupan dan hakikat dunia ini. Membaca al-Quran juga adalah sebuah meditasi yang transendental. Namun untuk menikmati kita memerlukan penjabaran dari para ahlinya.

Karena itu kami mengajak anda melakukan a Journey with Quran tiap hari sabtu, dalam sebuah kajian tafsir Isyari; sebuah kajian tafsir yang mencoba mendedah berbagai tafsir tradisional dan kemudian melejitkan pijakan epistemologi dan moralnya pada tafsir esoteris dari para arif agung di sepanjang zaman.

Nara Sumber : Ust. Salman Fadhlullah (kandidat magister filsafat Islam, ICAS-Paramadina)
Tempat : Jl Buncit Raya Kavling 35 Pejaten Barat-Jakarta Selatan (tentatif).

Kajian khusus edisi bulan Nopember-Desember 2009 ini, akan dimulai jika peserta mencapai minimal 20 orang
daftarkan pada panitia (hp esia : 02519617603) , registrasi Rp 100.000. (tanpa biaya yang lain). Tidak menerima pendaftaran lewat SMS.


(6 oktober 2009)
Proposal Tesis
Degradasi Jiwa dan Sumber dari Kejahatan Manusia
Dalam filsafat psikologi Mulla Shadra

Bab 1

1. 1. Latar belakang Masalah

Beberapa tahun belakangan ini Masyarakat Indonesia dicekam kejadian-kejadian kriminal. Koran-koran nasional mengulas beragam peristiwa dari yang biasa hingga yang luar biasa terkait dengan pola pembunuhan dengan cara-cara yang sadis. Dan Puncak dari kesadisan itu adalah apa yang dilakukan seorang gay bernama Ryan dengan membantai teman-temannya yang sebagian besar adalah teman kencannya dan kemudian tubuh yang sudah mati itu dimutilasi dan dikuburkan di depan rumahnya.Tim psikiater kepolisian menyatakan bahwa Ryan alisan Verry Idham Henriyansah (34) tahun dapat digolongkan sebagai psikopat dan hasil test juga menunjukan bahwa Ryan melakukan seluruh kejahatannya dalam kondisi normal dan sadar.
Meskipun status psikopat Ryan itu masih controversial dan perlu dibuktikan secara mendalam dan bukan hanya mengandalkan gejala-gejalanya saja. Namun isu psikopat memang patut dianggkat mengingat bahwa seperti yang dikatakan oleh oleh seorang ahli, ia bisa hadir dimana-mana dan bahkan muncul dari orang-orang baik-baik yang mungkin memiliki tempat yang terhormat.
Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/psikosis) karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut “orang gila tanpa gangguan mental”. Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau di rumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan [1]. Dalam kasus kriminal, psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, dan koruptor. Namun, ini hanyalah 15-20 persen dari total psikopat. Selebihnya adalah pribadi yang berpenampilan sempurna, pandai bertutur kata, mempesona, mempunyai daya tarik luar biasa dan menyenangkan [2].
Kata Dr Robert Hare psikopat bergentayangan di sekitar kita. Mereka bisa berada di kantor, tempat olahraga, arena hiburan, bahkan di lingkungan terdekat, seperti tetangga, suami atau pacar sekalipun. Sepintas, gelagat mereka tidak kelihatan seperti orang yang punya kelainan. Pasalnya, secara tampak mata mereka terlihat menarik, pintar dan berlaku seperti orang normal lainnya.
Bagi para filsuf yang memandang manusia sebagai perwujudan dari watak keburukan tentu seperti mendapat justifikasi dengan kejadian-kejadian di atas. Seperti yang dianut oleh Sigmun Freud , para penganut utilitarianisme, hedonisme, dan sebagian filsuf empirisme seperti Thomas Hobes yang memahami watak manusia cenderung buruk. Thomas Hobbes menegaskan bahwa manusia merupakan srigala bagi sesamanya. Hobbes, yang memang hidup dalam pergolakan zaman, berpendapat bahwa manusia itu dalam daya geraknya bersifat agresif dan jahat.
Hsun-tzu juga mengatakan bahwa sifat manusia adalah evil, kebaikan adalah hasil dari aktifitas yang sadar. F.Skiner juga mengatakan bahwa manusia berhak melakukan segala sesuatu bahkan jika bisa, juga berhak menjatuhkan dewa. Bahkan pembunuhan boleh saya lakukan semau-maunya, asal saya bisa dan suka?!
Perilaku menyimpang yang disebut dengan psycopat adalah salah satu tanda terjadi perubahan radikal dalam diri manusia. Itu menimbulkan tanda tanya besar bagi yang memiliki hati nurani; mengapa ada manusia seperti itu? Apakah mereka telah kehilangan rasa kemanusiaannya? Apa yang menyebabkan individu-individu seperti itu melakukan perbuatan yang sangat biadab? Apakah ia berhak melakukan segala sesuatu yang ingin dilakukannya ? Dan mengapa ia mau melakukan itu? Apa yang menyebabkan manusia menjadi jahat faktor yang paling dominan sehingga siapapun dengan latar belakang agama apapun bisa menjadi manusia yang jahat, manusia yang rakus akan harta, mau melakukan perampokan uang orang lain baik dengan cara halus atau cara kasar, mau melakukan pengrusakan dan melakukan hal yang merugikan orang lain baik dalam skala massa atau pun dalam sekecil apapun. Apakah ada yang bermetamorfosis dalam dirinya sehingga ia mengalami proses menjadi entitas lain yang tidak kasat mata? Atau seperti yang ditegaskan oleh Mulla Shadra, Sesungguhnya manusia selalu berubah-ubah dalam setiap momennya
Para ilmuwan menganalisa hal-hal tersebut melalui beragam perspektif ; baik dari faktor pendidikan, lingkungan hidup, faktor keturunan, penyakit mental dan sebagainya. Jika kita ingi menganalisa lebih dalam tentang manusia, maka kita akan menemukan dua hal dalam dirinya yaitu jiwa dan raga. Para filsuf muslim sepakat bahwa aktor utama dalam dalam setiap aksi raga adalah jiwa dan Jiwa dalam filsafat Islam memiki status ontologi sendiri. Rumi misalnya mengatakan, “Jiwa tidak dapat berfungsi tanpa raga; raga anda akan membeku kedinginan tanpa jiwa. Bahkan Descartes juga menyatakan bahwa tubuh tanpa jiwa hanya akan menjadi otomat belaka yang digerakan secara mekanis oleh stimulus eksternal dan kondisi-kondisi hidrolik internal atau “emosonal”- jadi tanpa kesadaran. Dan jiwa tanpa tubuh hanya memiliki ide-ide bawaan saja tanpa kesan-kesan inderawi.
Saking pentingnya bahkan Aristoteles mengatakan pengetahuan tentang jiwa merupakan sebuah nilai yang tinggi dari keseluruhan kebenaran. Doktrin tentang jiwa memang memiliki tempat tersendiri dalam kajian filsafat, seperti yang dikatakan oleh Abu Bakar, There are a great variety of analyses as to the concept of soul in the vast framework of the metaphysical vision of philosopher and theosophers. Thus, the doctrine of soul occupies an importance place in history of thought.
Fadhlullah Khaliqiyan dalam makalahnya tentang jiwa dalam pandangan Ibnu Sina dan Descartes. Mengutip pernyataaan Aristoteles dari bukunya de Anima, terjemahan Dawudi
Aristoteles pernah mengatakan bahwa setiap ilmu itu dalam pandangan kami adalah indah dan layak mendapat apresiasi. Dengan semua ilmu ini kami memilih satu ilmu dari ilmu-ilmu yang lain. Karena itu adalah sangat rumit dan merupakan kajian yang terbaik dan termulia , dengan dua sebab ini, maka kita harus menempatkan kajian ilmu jiwa di peringkat pertama, sebab dengan ilmu jiwa ini kita akan memperoleh bantuan dalam mengetahui seluruh sisi hakikat.
Mulla Shadra sendiri mengatakan bahwa sebagian besar perbedaan-perbedaan yang ada di dalam sifat-sifat manusia kembali pada jiwa, baik jiwa yang mulia atau jiwa yang lemah dan rendah.




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.